Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2013

Apollo 11, Mengunkap Misteri Manusia Terakhir di Bulan

Apakah Anda yakin bahwa program NASA meluncurkan manusia ke Mars akan berhasil? Sekalipun Obama menegaskan bahwa ditahun-tahun mendatang eksplorasi luar angkasa akan lebih terfokus pada planet Mars. Tetapi mengapa NASA tak pernah mengirimkan astronot-nya kembali ke Bulan setelah 40 tahun keberhasilan misi pesawat Apollo? Mengapa NASA tidak membangun pangkalan di Bulan daripada di orbit Bumi? Dan misteri itu tersimpan bersama misi penerbangan mereka, terlebih pada pesawat Apollo 11 dan Apollo 13.
Pesawat Apollo Digantikan, Mengapa?…



Sejarah program pesawat ruang angkasa dimulai dengan Proyek Mercury, dimana pada waktu itu Amerika menggunakan Redstone dan roket Atlas untuk mengirim manusia dalam misi suborbital dan orbital. Kemudian setelah keberhasilan proyek ini diikuti dengan proyek Gemini yang menggunakan roket Titan untuk meluncurkan dua orang ke orbit bumi, termasuk misi Extra Vehicular Activity yang membantu astronot berkelana di luar pesawat ruang angkasa.

Melalui keberhasilan proyek diatas memicu proyek pesawat luar angkasa selanjutnya yang disebut Apollo. Proyek ini menggunakan roket Saturn V untuk mengirim manusia ke Bulan, dimana pesawat Apollo 1 sebenarnya menjadi salah satu uji coba sistem yang gagal, kebakaran yang menewaskan astronot Grissom, White, dan astronot Chaffee. Gus Grissom seorang kritikus aspek tertentu tentang program luar angkasa dan nyaris tewas sebelum kejadian ini, ketika kapsul Mercury tenggelam ke laut setelah pendaratan.


Banyak misi yang pernah diuji coba pemerintahan Amerika, dan banyak juga mengalami keberhasilan. Seperti pesawat Apollo 7 dengan misi berawak di orbit Bumi, pesawat Apollo 8 berhasil membawa tiga orang ke Bulan meskipun mereka tidak mendarat. Pesawat Apollo 9 menguji peralatan Lunar Module Excursion (LEM) dan prosedur Docking di orbit Bumi, dilanjutkan dengan pesawat Apollo 10 yang membawa manusia ke Bulan dan dua awak turun menggunakan LEM sejauh sepuluh mil dari permukaan Bulan tapi tidak mendarat.

Tapi ada beberapa misi yang dianggap sangat misterius, setelah keberhasilan beberapa proyek penerbangan astronot, misi selanjutnya dianggap banyak orang sebagai kunci misteri pendaratan manusia di Bulan. Kabarnya pesawat Apollo 11 dianggap penting bagi ‘golongan’ tertentu yang berhasil mendarat di Bulan pada tanggal 20 Juli 1969. Tanggal ini merupakan tanggal Heliks meningkatnya konstelasi Sirius di belahan bumi utara (tanggal yang sangat penting bagi orang-orang Mesir kuno, terkait Dewa Isis). Sementara Buzz Aldrin dikabarkan melakukan upacara misterius selama 33 menit setelah keberhasilan pendaratan.

Pesawat Apollo 11, Aldrin Axperiment
Eksperimen Aldrin di Bulan, Apollo 11

Misi berikutnya diikuti dengan peluncuran pesawat Apollo 12 yang mendarat dengan sukses, tetapi Apollo 13 benar-benar mendapatkan angka sial. Setalah lepas landas dari Bumi pada jam 1:13 (menurut jam militer tepat pada jam 13:13) tanggal 11 April 1970, dan mengalami ledakan misterius pada tanggal 13 April. Apollo 13 direncanakan mendarat di Bulan titik kordinat wilayah Fra Mauro, dimana wilayah itu berada dalam kegelapan. Kemudian Apollo 14, Apollo 15, Apollo 16 dan Apollo 17 mengalami kesuksesan besar.

Teknologi roket Saturn V kemudian ditinggalkan dengan alasan pemborosan biaya, karen sistem peluncuran ini hanya berfungsi sekali pakai. Amerika kemudian mengembangkan sistem Space Shuttle yang sebenarnya membutuhkan biaya operasional lebih mahal, meskipun pada kenyataannya sebagian besar dapat digunakan kembali. Dan fakta misteri yang terjadi selama ini, misi pesawat berawak telah mencapai keberhasilan spektakuler dimasa lalu,
tetapi mengapa NASA belum pernah mengirim manusia kembali ke Bulan? Terakhir kali NASA mengirimkan manusia ke Bulan tahun 1972 dengan menggunakan Apollo 17, seharusnya saat ini akan menjadi lebih mudah dengan bantuan teknologi lebih maju.


Beberapa orang tidak pernah percaya dengan pendaratan di Bulan, bahkan hal ini terjadi sejak masa-masa penerbangan pesawat Apollo. Dan selama bertahun-tahun keraguan itu semakin besar, apalagi saat ini NASA tak pernah lagi mengirimkan astronot kembali ke Bulan. Sebuah buku karya Mary dan David Bennett Percy yang berjudul Dark Moon menjelaskan tentang perjalanan astronot ke Bulan akan membutuhkan waktu sekitar dua jam. Rute menuju Bulan penuh radiasi yang dianggap sangat mematikan, bahkan lebih mematikan dari partikel yang terperangkap pada uji coba nuklir di atas atmosfer pada tahun 1962.
Video Lunar Module yang lepas landas dari Bulan tidak menunjukkan tanda-tanda adanya asap roket ataupun debu, dan pendaratan tidak meninggalkan debu di kaki pesawat. Kamera Hasselblad yang digunakan para astronot yang dipasang pada pakaian ruang angkasa setinggi dada, hampir mustahil beroperasi sambil mengenakan setelan tebal dan rumit.

Richard Hoagland dan Mike Bara menyebutkan, bahwa sejarah rahasia NASA tidak cukup memiliki bukti kuat. Tanggal aneh dan penentuan waktu yang melibatkan angka suci, apakah kebetulan dalam misi Apollo 13 seperti semacam ritual aneh atau Teater bukan penyebab utama kecelakaan? NASA menggunakan nama Mitologi Pagan pada sebagian besar roket dan program misi-nya (Apollo juga dianggap sebagai dewa yang bisa membawa wabah penyakit dan mematikan). Misi mereka menggambarkan konstelasi Orion (Sirius) sangat penting bagi Mesir kuno. Ada satu landasan peluncuran yang disebut White Sands Missile, dan itu disebut Launch Complex Thirty Three.

Dan ada juga satu landasan pacu di Cape Canaveral yang juga disebut-sebut sebagai Runway Thirty Three. Soal ‘Thirty Three’ saya tak perlu menjelaskan panjang lebar, silahkan Anda cari penjelasannya sendiri.
Konspirasi Pendaratan Module Pesawat Apollo Di Bulan

Jadi ada dua kemungkinan, mungkin saja manusia pernah mendarat di Bulan, atau ada utusan lain yang mengorbit ke Bulan. Disebutkan para astronot pesawat Apollo melihat dan merekam benda misterius di orbit Bumi dan Bulan, melihat lampu aneh di permukaan Bulan, detektor seismik pada misi pertama mendeteksi tapi tak ada bukti meteor yang menjelaskan adanya lampu.
Jika manusia tidak pernah mendarat di Bulan, darimana asal batu bulan sebanyak 800 pon yang dibawa astronot? Bebatuan ini dikirim ke laboratorium di seluruh dunia, dan rasio isotop batu bulan berbeda dengan batu yang ada di Bumi.

Ada konspirasi yang menyebutkan, mungkin bebatuan itu benar-benar dibawa oleh astronot dalam sebuah program ruang rahasia, dan program misi yang muncul di publik hanya bertujuan sebagai propaganda untuk menutupi keberadaan program rahasia dan teknologi canggih yang digunakan. Sangat mungkin NASA memiliki teknologi Electrogravitik, tapi skenario ini tampaknya terlalu mengada-ada.
Konspirasi lainnya, mungkin astronot memang pernah mendarat tetapi hanya sekali atau dua kali dan misi pesawat Apollo lainnya adalah palsu. Motifnya untuk menutupi foto asli dengan merubah (kemungkinan) adanya struktur atau pesawat ruang angkasa lain di Bulan. Hoagland dan Bara serta peneliti lainnya telah memberikan bukti sangat kuat yang menyatakan bahwa beberapa jenis peradaban meninggalkan struktur di permukaan Mars dan Bulan, dan ada kemungkinan bahwa mereka masih hidup.

Lalu, bagaimana dengan Mars Curiosity dan rencana NASA mengirimkan manusia ke planet Mars? Saya tidak beranggapan bahwa hal ini terlalu berambisi, serangkaian uji coba mungkin akan mengulang tragedi yang pernah terjadi pada misi pesawat Apollo. Dan lebih buruk dari itu, NASA tidak akan membuka keseluruhan fakta yang mereka temukan di permukaan Mars. Mungkin NASA sudah diperingatkan, ‘jangan kembali ke Bulan’ hingga misi penerbangan Apollo selanjutnya dihentikan. Semua ini masih menjadi misteri, benarkah ada peradaban di Bulan hingga mengorbankan serangkaian penerbangan pesawat Apollo?


Sumber :  http://forum.viva.co.id

Selasa, 09 April 2013

Cuaca Ekstrim Di Mars, Apakah Cocok Untuk Manusia

Planet Mars sudah lama menjadi obyek pencarian kehidupan lain di luar Bumi. Planet Merah juga menjadi salah satu calon koloni manusia, jika suatu hari nanti Bumi tak lagi sanggup menopang kehidupan.

Namun, apakah pencarian tersebut selama ini sukses dan memungkinkan Mars jadi rumah kedua manusia ?



 beyond-our-planet.blogspot.com


Dilansir Redorbit, 11 Februari 2013, awal kehidupan di Bumi ditandai dengan adanya iklim yang hangat dan basah, dan itu merupakan gambaran dari Planet Mars pada 3,5 miliar tahun yang lalu.

Namun, atsmosfer Mars mengandung karbondioksida dan air, yang menciptakan sebuah rangkaian kimia dan menyebabkan terbentuknya batuan karbonat di Planet Merah itu.

Selain itu, di Mars tidak ditemukan sistem teknonik yang berfungsi untuk mendaur ulang bebatuan menjadi karbondioksida. Hal tersebut membuat atmosfer di Planet Mars semakin tipis.

Jadi, bagaimana cuaca di Mars, panas atau dingin? Ketika sebuah atsmosfer semakin tipis, logikanya suhu cenderung akan sangat dingin. Kejadian ini membuat setiap air yang ada di permukaan Mars akan membeku.

Suhu di Planet Mars bervariasi. Pada musim panas, suhu akan mencapai 70 derajat Fahrenheit, atau 21 derajat Celcius, pada siang hari. Kurang lebih sedingin AC kamar di ruang tidur Anda.

Sementara suhu di kutub bisa mencapai -225 derajat Fahrenheit, atau setara -142 derajat Celcius. Tentu temperatur yang tidak merata ini membentuk sebuah lingkungan yang tidak ramah bagi manusia. Suhu yang tak menentu pun menjadi tantangan bagi para ilmuwan ketika akan mengirimkan sistem elektronik dan mekanik ke Mars.

Kelembaban juga menjadi kunci kehidupan bagi manusia. Sementara di Planet Mars, kelembaban udaranya sering berubah-ubah. Pada saat malam dengan suhu yang dingin, kelembaban di Mars bisa mencapai 100 persen. Sedangkan, pada siang hari kelembaban di bawah normal, kejadian ini disebabkan oleh perbedaan suhu yang jauh pada siang dan malam hari.

Indikator lain dari suatu planet agar bisa ditempati manusia adalah tekanan udara. Akibat cuaca yang dingin di Mars, molekul udara bergerak lambat dan berkumpul pada suatu ruang. Hal ini menyebabkan tekanan udara menjadi sangat tinggi.

Sangat berbeda dengan di Bumi, suhu yang hangat menyebabkan molekul udara bergerak lebih cepat, dan mendorong molekul udara untuk meluas ke berbagai ruang. Sehingga, tekanan udara tidak terpusat ke ruang tertentu.

Jadi, bisa disimpulkan cuaca di Mars adalah sangat dingin dan belum dikatakan layak untuk dihuni. Ini diakibatkan oleh atsmosfernya yang tipis. Setiap air yang ada di permukaannya akan langsung membeku menjadi es.

Saat ini, permukaan Mars dihiasi dengan gurun beku, namun masih ada sejumlah studi geologi yang menunjukkan bahwa Planet Merah lebih hangat dan basah.

Kemajuan ilmu pengetahuan manusia memang terus berkembang. Banyak hal yang dulu tak mungkin kini jadi kenyataan. Namun, tak ada yang tahu pasti apakah mungkin manusia bisa meninggalkan bumi - satu-satunya tempat bagi manusia sesuai kehendak Allah SWT - atau ada kemungkinan lain? Walahu'alam bishowab...







Sumber:
viva.

Sabtu, 16 Februari 2013

Cuaca di Mars Ekstrim... Mungkinkah Untuk Manusia?

Planet Mars sudah lama menjadi obyek pencarian kehidupan lain di luar Bumi. Planet Merah juga menjadi salah satu calon koloni manusia, jika suatu hari nanti Bumi tak lagi sanggup menopang kehidupan.

Namun, apakah pencarian tersebut selama ini sukses dan memungkinkan Mars jadi rumah kedua manusia ?



 beyond-our-planet.blogspot.com


Dilansir Redorbit, 11 Februari 2013, awal kehidupan di Bumi ditandai dengan adanya iklim yang hangat dan basah, dan itu merupakan gambaran dari Planet Mars pada 3,5 miliar tahun yang lalu.

Namun, atsmosfer Mars mengandung karbondioksida dan air, yang menciptakan sebuah rangkaian kimia dan menyebabkan terbentuknya batuan karbonat di Planet Merah itu.

Selain itu, di Mars tidak ditemukan sistem teknonik yang berfungsi untuk mendaur ulang bebatuan menjadi karbondioksida. Hal tersebut membuat atmosfer di Planet Mars semakin tipis.

Jadi, bagaimana cuaca di Mars, panas atau dingin? Ketika sebuah atsmosfer semakin tipis, logikanya suhu cenderung akan sangat dingin. Kejadian ini membuat setiap air yang ada di permukaan Mars akan membeku.

Suhu di Planet Mars bervariasi. Pada musim panas, suhu akan mencapai 70 derajat Fahrenheit, atau 21 derajat Celcius, pada siang hari. Kurang lebih sedingin AC kamar di ruang tidur Anda.

Sementara suhu di kutub bisa mencapai -225 derajat Fahrenheit, atau setara -142 derajat Celcius. Tentu temperatur yang tidak merata ini membentuk sebuah lingkungan yang tidak ramah bagi manusia. Suhu yang tak menentu pun menjadi tantangan bagi para ilmuwan ketika akan mengirimkan sistem elektronik dan mekanik ke Mars.

Kelembaban juga menjadi kunci kehidupan bagi manusia. Sementara di Planet Mars, kelembaban udaranya sering berubah-ubah. Pada saat malam dengan suhu yang dingin, kelembaban di Mars bisa mencapai 100 persen. Sedangkan, pada siang hari kelembaban di bawah normal, kejadian ini disebabkan oleh perbedaan suhu yang jauh pada siang dan malam hari.

Indikator lain dari suatu planet agar bisa ditempati manusia adalah tekanan udara. Akibat cuaca yang dingin di Mars, molekul udara bergerak lambat dan berkumpul pada suatu ruang. Hal ini menyebabkan tekanan udara menjadi sangat tinggi.

Sangat berbeda dengan di Bumi, suhu yang hangat menyebabkan molekul udara bergerak lebih cepat, dan mendorong molekul udara untuk meluas ke berbagai ruang. Sehingga, tekanan udara tidak terpusat ke ruang tertentu.

Jadi, bisa disimpulkan cuaca di Mars adalah sangat dingin dan belum dikatakan layak untuk dihuni. Ini diakibatkan oleh atsmosfernya yang tipis. Setiap air yang ada di permukaannya akan langsung membeku menjadi es.

Saat ini, permukaan Mars dihiasi dengan gurun beku, namun masih ada sejumlah studi geologi yang menunjukkan bahwa Planet Merah lebih hangat dan basah.

Kemajuan ilmu pengetahuan manusia memang terus berkembang. Banyak hal yang dulu tak mungkin kini jadi kenyataan. Namun, tak ada yang tahu pasti apakah mungkin manusia bisa meninggalkan bumi - satu-satunya tempat bagi manusia sesuai kehendak Allah SWT - atau ada kemungkinan lain? Walahu'alam bishowab...







Sumber:
viva.

Selasa, 06 November 2012

Sebuah Objek Tertangkap Sedang Mengisi Bahan Bakar dari Matahari

Ilmuwan berspekulasi jika matahari kita bisa saja berfungsi sebagai stasiun bahan bakar. Spekulasi ini muncul setelah teleskop NASA berhasil mengabadikan kejadian langka dimana sebuah obyek ruang angkasa mengisi bahan bakar dari matahari.



Teleskop NASA menangkap gambar sebuah objek gelap berukuran planet sedang melintasi matahari dan sebuah benda seperti selang terlihat memanjang dari objek tersebut ke arah matahari.

Objek ini kemudian tenggelam dalam cahaya matahari kemudian menghilang ke ruang angkasa yang gelap. Video yang direkam oleh Solar Dynamics Observatory milik NASA ini menunjukkan bahwa objek gelap itu adalah sebuah bintang mati, bintang yang tak lagi memancarkan cahaya karena kehabisan bahan bakar.

Saat melewati matahari, bintang mati ini terlihat gelap karena suhunya lebih dingin daripada semburan korona matahari. Gravitasi bintang mati ini membuat sebagaian massa matahari ditarik, sehingga terlihat seperti sebuah selang memanjang.

Kejadian langka yang berhasil terekam kamera ini membuat munculnya teori baru bahwa bintang yang telah mati bisa saja hidup kembali setelah mengisi cukup banyak bahan bakar yang diambil dari bintang lain.

Berikut ini videonya :







Sumber :
palakat.com

Sabtu, 27 Oktober 2012

Misteri Tentang Alam Semesta

Alam semesta selalu mengejutkan kita tentang hal-hal yang luar biasa
Alam semesta selalu mengejutkan kita tentang hal-hal yang luar biasa yang terkadang di luar nalar manusia. Mulai dari asal usul alam semesta, luasnya, objek di dalamnya, lubang hitam, penemuan bintang dan planet-planet aneh dan masih banyak lagi. Nah berikut adalah beberapa hal mengejutkan di alam semesta tempat kita tinggal.

1. Usia Alam Semesta Sangat Tua
Usia Alam Semesta Sangat Tua
Alam semesta dimulai dengan Big Bang dan diperkirakan terjadi sekira 13.7 miliar tahun yang lalu (plus atau minus 130 juta tahun)
Astronom mengkalkulasi hal ini dengan melakukan pengukuran pada komposisi materi dan kepadatan energi di alam semesta yang memberi petunjuk bagi mereka untuk memperkirakan sberapa cepat ekspansi alam semesta di masa lalu. Peneliti akan dibawa kembali ke masa lalu dan memperkirakan kapan Big Bang terjadi. Waktu diantara ledakan itu sampai waktu saat ini merupakan usia alam semesta kita.
2. Alam Semesta Semakin Membesar
Alam Semesta Semakin Membesar
Pada tahun 1920, astronom Edwin Hubble membuat penemuan revolusioner yang mengungkapkan bahwa alam semesta tidak statik (tetap), tapi terus membesar / mengembang. Tapi apakah gravitasi dari materi akan memperlambatnya atau akan ada hal baru lainnya?
Pada 1998 teleskop Hubble mengamati keberadaan supernova yang letaknya sangat jauh dan ditemukan bahwa pada masa lalu alam semesta meluas lebih lambat daripada hari ini. Dari teka-teki ini, maka muncullah apa yang disebut dengan dark energy (energi gelap) yang mendorong percepatan ekspansi alam semesta.
3. Percepatan Alam Semesta Terus Meningkat
Percepatan Alam Semesta Terus Meningkat
Energi gelap bukan hanya menyebabkan alam semesta mengembang, tapi menyebabkan obyek lainnya seperti galaksi bergerak menjauh semakin cepat. Percepatan alam semesta menegegaskan teori relativitas umum Einstein dan konstanta kosmologi Einstein untuk menjelaskan energi gelap yang tampaknya mampu menangkal gravitasi dan menyebabkan alam semesta meluas dalam tempo yang cepat.
4. Alam Semesta Bisa Berbentuk “Datar”
Alam Semesta Bisa Berbentuk "Datar"
Bentuk alam semesta merupakan hasil interaksi antara tarikan gravitasi (berdasarkan kepadatan materi di alam semesta) dan percepatan. Jika kerapatan alam semesta melebihi nilai kritis tertentu, maka alam semesta adalah “tertutup,” seperti permukaan sebuah bola. Ini menyiratkan bahwa alam semesta tidak terbatas tetapi juga tidak memiliki akhir. Dalam hal ini, alam semesta akhirnya akan berhenti berkembang dan mulai runtuh dengan sendirinya, dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Big Crunch.”
Jika kerapatan alam semesta kurang dari nilai kerapatan kritis, maka bentuk alam semesta adalah “terbuka,” seperti permukaan sebuah pelana. Dalam hal ini, alam semesta tidak memiliki batas dan akan terus berkembang selamanya.
Namun, jika kerapatan alam semesta sama persis dengan kerapatan kritis, maka geometri alam semesta adalah “datar,” seperti selembar kertas. Di sini, alam semesta tidak memiliki batas-batas dan akan berkembang selamanya, tetapi tingkat ekspansi secara bertahap akan mendekati nol setelah jumlah tak terbatas waktu. Pengukuran terakhir menunjukkan bahwa alam semesta adalah datar dengan margin kesalahan sekitar 2 persen.
5. Alam Semesta Dipenuhi Oleh Hal yang Tidak Terlihat
Alam Semesta Dipenuhi Oleh Hal yang Tidak Terlihat
Alam semest memiliki banyak hal yang tidak dapat dilihat. Bahkan bintang-bintang, planet dan galaksi yang saat ini dapat dideteksi, itu hanya 4 persen bagian dari alam semesta, menurut para astronom. 96 persen lainnya merupkaan hal-hal yang tidak terlihat.
Hal-hal tidak terlihat yang aneh ini disebut dengan dark energy (energi gelap) dan dark matter (materi gelap). Memang keberadaannya tidak dapat dilihat, tapi bisa dideteksi dengan mengamati pengaruh energi gravitasinya terhadap objeyek-obyek normal alam semesta yang bisa terlihat.
6. Alam Semesta Memiliki Gema Kelahirannya
 Alam Semesta Memiliki Gema Kelahirannya
Gelombang mikro kosmik yang terdiri dari gema cahaya merupakan sisa energi dari ledakan Big Bang 13.7 miliar tahun lalu.
Misi Plank oleh ESA (European Space Agency) memetakan seluruh langit dalam gelombang mikro cahaya untuk mengungkapkan petunjuk baru tentang bagaimana alam semesta bermula. Pengamatan alam semesta melalui gelombang mikro cahaya merupakan pengamatan paling tepat yang pernah diperoleh. Hal ini kemudian digunakan sebagai petunjuk oleh ilmuwan untuk menjawab pertanyaan apa yang terjadi setelah alam semesta terbentuk.
7. Alam Semesta Lain (Paralel)
 Alam Semesta Lain (Paralel)
Gagasan bahwa kita hidup di multiuniverse, di mana alam semesta kita adalah salah satu dari banyak, berasal dari teori disebut inflasi kekal (eternal inflation), yang menunjukkan bahwa segera setelah Big Bang, ruang-waktu diperluas pada tingkat yang berbeda di tempat yang berbeda. Menurut teori ini, hal ini menimbulkan gelembung alam semesta yang dapat berfungsi dengan hukum mereka sendiri terpisah dari fisika.
Konsep ini kontroversial dan murni hipotetis sampai studi terbaru mencari tanda-tanda fisik dari teori multiverse di latar belakang gelombang mikro kosmis, yang merupakan peninggalan dari Big Bang yang meliputi alam semesta kita.
Para peneliti mencari pengamatan terbaik yang tersedia dari gelombang mikro kosmik tanda-tanda tabrakan gelembung alam semesta, tapi tidak menemukan hal yang konklusif. Jika dua alam semesta telah bertabrakan, para peneliti mengatakan, itu akan meninggalkan pola melingkar di belakang dalam latar belakang gelombang mikro kosmik.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Planet Baru Kaya Akan Berlian, Bisakah Dihuni?

Astronom dari Yale University menemukan sebuah planet yang kaya akan berlian. Planet tersebut berukuran dua kali lipat Bumi, mengorbit bintang serupa dan tetangga Matahari.

"Ini bukti pertama adanya planet batuan yang secara fundamental punya perbedaan komposisi kimia dengan Bumi. Permukaan planet ini lebih banyak ditutupi dengan grafit dan berlian daripada air dan granit," ungkap Nikku Madhusudhan, astronom penemunya.



Planet berlian tersebut bernama 55 Cancri e, memiliki massa 8 kali Bumi sehingga disebut planet Bumi Super. Planet ini merupakan salah satu dari 5 planet yang mengorbit bintang 55 Cancri, berlokasi 40 tahun cahaya dari Bumi.


Apakah planet itu bisa dihuni manusia?

55 Cancri e mengorbit dengan kecepatan tinggi. Satu tahun di planet itu sama dengan 18 jam di Bumi. Suhu planet juga sangat panas, mencapai 2.149 derajat celsius.

Astronom sebelumnya menduga bahwa 55 Cancri e memiliki air super panas. Namun, observasi menunjukkan bahwa planet itu tak punya air sama sekali. Komposisi planet mayoritas hanya karbon, besi, silikon, dan silikat. Kandungan berlian mencapai 75 persen.

Dengan demikian, planet baru ini tak bisa dihuni. Tinggal di planet kaya berlian ini cuma akan jadi mimpi.

Penemuan ini, kata Madhusudhan, menunjukkan bahwa planet Bumi Super kaya karbon yang jauh tak bisa lagi diasumsikan punya komposisi sama dengan Bumi. Temuan ini juga membuka peluang studi lain, mengungkap pengaruh komposisi planet pada aktivitas tektonik dan vulkanik.

"Bumi Super kaya berlian ini adalah salah satu penemuan yang menanti kita untuk mengeksplorasi planet yang mengorbit bintang tetangga Matahari," papar Madhusudhan seperti dikutip Physorg. Riset akan dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters.


Sumber :
kompas.com

Batu "Piramida" di Mars Mirip dengan Batuan Bumi

Sebuah kendaraan penjelajah (rover) bernama Curiosity kini sedang menjalani tugas mulia, menggantikan manusia untuk mengeksplorasi planet tetangga dekat Bumi, Mars.

Tak hanya menjelajah planet merah dan mengambil foto-fotonya, pada September lalu, Curiosity melakukan kontak pertama dengan batuan Mars yang berbentuk unik, mirip piramida.



Setelah diteliti oleh Curiosity, batu yang diberi nama "Jake Matijevic", untuk mengenang anggota misi yang meninggal Agustus lalu, ternyata tak seperti batuan Mars yang pernah dijumpai sebelumnya. Yang mengejutkan, ia justru mirip dengan batuan di Bumi.

Jenis batuan tersebut yang pertama ditemukan di Mars membantu memperluas pemahaman para ilmuwan tentang bagaimana batuan beku terbentuk.

Batu berbentuk piramida itu memiliki tinggi 40 cm, ditemui di tempat pendaratan di Curiosity di Mars, Kawah Gale.

Batu Jake kini digunakan sebagai target kalibrasi Curiosity untuk menguji coba 10 instrumen sainsnya. "Itu adalah batu dengan ukuran bagus pertama yang kami temukan di tengah perjalanan," kata Roger Wiens, peneliti utama instrumen Chemistry and Camera (ChemCam) Curiosity dari Los Alamos National Laboratory.

Akhir September lalu, Curiosity menggunakan ChemCam dan Alpha Particle X-ray Spectrometer (APXS) untuk menguak komposisi kimia batu Jake. Apa yang ditemukan mengejutkan.

"Spektrum yang kami lihat tak seperti yang dikira," kata investigator Ralf Gellert dariUniversity of Guelph, Kanada. "Tipe baru batuan yang ditemukan di Mars, yang tidak dilihat rover sebelumnya, Spirit dan Opportunity."

Batu Jake tampaknya memiliki konsentrasi elemen sodium, aluminum, dan potassium lebih tinggi. Sementara konsentrasi mahnesium, besi, dan nikel yang lebih rendah dari batuan beku lainnya yang dipelajari di Mars.

Jenis ini secara kimiawi, meski jarang terlihat, adalah jenis yang telah dipelajari dengan baik di Bumi, misalnya spesimen yang ditemukan di pulau-pulau samudra seperti Hawaii dan di tempat lain.

Di Hawaii misalnya, batuan tersebut berasal dari lelehan batuan di dalam gunung berapi yang ke luar dalam bentuk magma, yang kemudian kembali membeku dan mengkristal. Namun, para peneliti tidak mau buru-buru menyimpulkan batuan di Mars juga terbentuk dengan cara yang sama.

Curiosity, tokoh utama Mars Science Laboratory Mission yang bernilai US$2,5 miliar didaratkan ke planet merah untuk mempelajari apakah Mars mampu menopang kehidupan.


Sumber :
viva.co.id

Selasa, 09 Oktober 2012

Ilmuwan Akan Gunakan Kapal Kincir Untuk Jelajahi Danau Titan

Saat kendaraan darat ideal untuk melakukan penjelajahan di Mars, kapal atau perahu merupakan sarana terbaik untuk menjelajahi Titan, bulan terbesar planet Saturnus. Baru-baru ini ilmuwan mengajukan proposal tentang misi baru untuk menjelajahi danau di Titan.

Titan merupakan salah satu dari 60 bulan yang dimiliki oleh planet Saturnus. Titan memiliki berbagai macam hal yang tidak dimiliki oleh bulan atau bahkan planet lain di tata surya kita.


Foto komposit Titan yang diambil oleh wahana Cassini.
Image credit: NASA

Hal itu seperti adanya lautan, danau, dan sungai yang terdiri dari metana, dan memiliki atmosfer yang tebal sehingga ini membuat Titan merupakan obyek di tata surya yang paling mirip dengan Bumi. Ukurannya lebih kecil dari Bumi tapi lebih besar dari Merkurius.

Sampai saat ini ilmuwan belum mengetahui apakah ada kehidupan di Titan, sebab temperatur di sana sangat dingin yaitu mencapai minus 178 derajat Celcius. Namun bisa jadi di bawah lautnya ada kehidupan mikro organisme.

Hal itulah yang membuat ilmuwan sangat penasaran dan ingin meneliti Titan yang dalam beberapa tahun ini fotonya sering diabadikan oleh wahana Cassini yang mengorbit planet Saturnus.

Wahana pengorbit Huygens milik ESA yang pernah mendarat di Titan ini juga sempat mengirimkan foto permukaan Titan sebelum akhirnya hilang kontak.

Dari informasi yang sempat di dapat dari wahana Huygens, diketahui bahwa Titan memiliki danau, sungai, dan lautan hidrokarbon yang sangat berlimpah.

Dari situlah ilmuwan mengajukan proposal Titan Lake In-situ Sampling Propelled Explorer (TALISE) yaitu berupa perahu yang digerakkan oleh semacam "kincir" untuk mengapung di danau Ligeia Mare, danau terbesar di Titan yang terletak di kutub Utaranya.

Setelah diturunkan ke danau, selanjutnya TALISE akan bergerak ke tepi danau. Berikut ini merupakan gambar rancangan dari wahana TALISE:

Rancangan wahana TALISE yang digunakan untuk menjelajahi danau di Titan.
Image credit: SENER

TALISE sendiri merupakan proyek gabungan SENER dengan Centro de Astrobiología dari Spanyol. Konsepnya baru dalam tahap awal dan sudah dipresentasikan oleh para ilmuwan pada tanggal 27 September 2012 lalu pada acara European planetary Science Congress yang berlangsung di Madrid, Spanyol.


Sumber :
astronomi.us

Rabu, 19 September 2012

Planet Hunian Alien Sudah Ditemukan?

Astronom mengklaim telah menemukan dua planet "alien" (asing) yang berputar di sepasang bintang. Astronom mengatakan bahwa sepasang bintang ini merupakan sistem tata surya dengan matahari kembar yang menyerupai dunia fiksi Luke Skywalker (star wars), Tatooine.

Dilansir MSN, Sabtu (1/9/2012), sebagian besar bintang seperti matahari dan planet-planet, termasuk bumi, bukan merupakan bintang yang "lajang" (bintang tunggal).  Astronom mengungkapkan bahwa matahari memiliki pasangan yang mengorbit satu sama lain.
Ilmuwan menemukan planet dalam sistem biner, yang disebut planet circumbinary dengan dua matahari seperti Tatooine dalam kisah Star Wars. Untuk menemukan planet circumbinary, astronom menganalisis data dari teleskop luar angkasa Kepler NASA.

Teleskop luar angkasa tersebut telah mendeteksi lebih dari 2.300 potensi planet alien sejak peluncurannya pada Maret 2009. Hingga saat ini, Kepler berhasil mendeteksi empat sistem dengan planet circumbinary, Kepler-16, 34, 35 dan 38.

Ilmuwan kini mengumumkan deteksi dari Kepler-47, yaitu sistem pertama terkait planet asing yang melingkari sepasang bintang. Bintang dan planetnya tersebut, disebut Kepler-47b dan Kepler-47c, yang berdiam sekira 5000 tahun cahaya di konstelasi Cygnus.

"Kepler-47 menunjukkan kepada kami bahwa bintang biner memiliki kedekatan dengan sistem planet, seperti yang kami lihat di bintang tunggal," ujar peneliti Jerome Orosz di San Diego Sate University kepada SPACE.com.

Menurutnya, Sebagian besar bintang di galaksi berada dalam biner atau beberapa sistem tertinggi. Sehingga, fakta bahwa planet dapat hadir dalam sistem jenis ini adalah penting.

"Jika kami dibatasi untuk mencari planet di sekitar bintang tunggal, kami akan kehilangan sebagian besar bintang di galaksi," pungkasnya.

Catatan
Analisa dan teori planet asing tersebut sebagai tempat tinggal alien masih perlu dipertanyakan. Perlu banyak penelitian dan pembuktian akan hal tersebut. Yang pasti, temuan bintang kembar dan planet lain yang memiliki sumber kehidupan seperti bumi merupakan lompatan besar dalam bidang sains astronomi.



 
Sumber:
scoop.it

Kamis, 30 Agustus 2012

Berapa Lama Untuk Mencapai Mars dari Bumi?

Planet Mars merupakan salah satu objek langit yang bisa dilihat dengan mata telanjang di malam hari yang cerah. Setiap dua tahun sekali, Mars dan Bumi saling mendekati satu sama lain. Hal itu disebut dengan Opposition, yaitu saat Mars berada lebih dekat 55 juta km dari Bumi.
Waktu yang diperlukan bagi sebuah wahana untuk menempuh perjalanan dari Bumi ke Mars berkisar antara 150-300 hari tergantung pada kecepatan peluncuran, penyelarasan Bumi dan Mars, dan panjang jarak dari perjalanan tersebut untuk mencapai target.
Pesawat atau wahana pertama buatan manusia yang pergi ke Mars yaitu Marine 4 yang diluncurkan pada 28 November 1964 dan sampai di Mars pada 14 Juli 1965. Marine 4 berhasil mengambil 21 foto. Total waktu penerbangan adalah 228 hari

Kesuksesan tersebut diikuti oleh Marine 6 yang diluncurkan pada 25 Februari 1969 dan sampai di Mas tanggal 31 Juli 1969. Waktu penerbangan hanya 156 hari. Marine 7 juga berhasil sampai di Mars dengan waktu tempuh hanya 131 hari.

Marine 9 sebagai satelit pertama yang berhasil masuk ke orbit Mars diluncurkan pada 30 Mei 1971 dan sampai pada 13 November 1971 dengan waktu tempuh 167 hari.

Dari situlah perkiraan lamanya waktu tempuh ke Mars antara 150-300 hari. Namun ada juga yang bisa lebih lama dari 300 hari. Berikut ini contohnya:

1. Viking 1 (1976) = 335 hari
2. Viking 2 (1976) = 360 hari
3. Mars Reconnaissance Orbiter (2006) = 210 hari
4. Phoenix Lander (2008) = 295 hari
5. Curiosity Lander (2012) = 253 hari
Dikutip dari universetoday.com, dengan kecepatan roket 20 ribu km per jam maka lamanya waktu tempuh seharusnya bisa 115 hari. Tapi kenapa bisa sampai 1 tahun? Hal ini disebabkan tidak bisa menempuh garis lurus untuk menuju ke sana.
Bumi dan Mars yang mengorbit matahari selalu bergerak dan berpindah posisi. Sehingga wahana atau roket tersebut perlu mengikuti ke mana posisi planet tujuannya.

Kendala lainnya adalah bahan bakar. Dibutuhkan jumlah bahan bakar yang sangat banyak dan itu cukup menyulitkan. Karena itulah ilmuwan NASA menggunakan sebuah metode yang disebut dengan Hohmann Transfer Orbit atau Minimum Energy Transfer Orbit. Hal itu bertujuan untuk mengirim pesawat luar angkasa dari Bumi ke Mars dengan kebutuhan bahan bakar seminim mungkin. 
Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Walter Hohmann pada tahun 1925. Wahana yang diluncurkan akan mengrobit dengan lintasan yang lebih panjang dari pada lintasan Bumi mengelilingi Matahari untuk kemudian akan bertemu dengan orbit Mars di saat yang bersamaan. Hal itu tentunya bisa lebih cepat dan lebih hemat.

Saat ini para insinyur NASA juga tengah mengembangkan mesin roket yang lebih canggih untuk kegiatan eksplorasi planet yang lebih jauh lagi.
Sumber:
astronomi.us

Rabu, 25 Juli 2012

Ilmuwan Rusia Temukan Kehidupan di Venus



Beberapa benda yang menyerupai makhluk hidup terdeteksi dalam sejumlah foto yang diambil mesin pendarat atau penjelajah "probe" milik Rusia pada 1982. Demikian laporan sebuah artikel yang diterbitkan majalah Solar System Research, seperti dikutip Zeenews.com.


Leonid Ksanfomaliti dari Lembaga Penelitian Ruang Angkasa Rusia Academy of Sciences menerbitkan sebuah penelitian yang menganalisis foto-foto dari misi Venus hasil sebuah mesin pendarat "probe" Soviet, Venus-13, pada 1982. Foto-foto itu menampilkan beberapa sejumlah objek yang mirip sebuah "disk", "flap hitam", dan "kalajengking".

Menurut para ilmuwan, semua benda itu "muncul, berfluktuasi, dan menghilang", dengan merujuk ke lokasi mereka yang berpindah seperti tampilan pada foto lainnya dan jejak-jejak di tanah.

"Bagaimana bisa kita melupakan tentang teori-teori saat ini tentang tidak adanya kehidupan di Venus. Sekarang, marilah kita dengan yakin menyarankan bahwa fitur morfologi objek itu akan memungkinkan kita untuk mengatakan bahwa mereka hidup," kata Ksanfomaliti.

Teori Venus sebelumnya menyatakan bahwa tidak ada data bukti keberadaan kehidupan di Venus, dengan suhu tanahnya yang mencapai 464 derajat Celcius.


sumber : http://tekno.liputan6.com/read/373476/ilmuwan-rusia-temukan-kehidupan-di-venus

Rabu, 11 Juli 2012

Inikah Bentuk Mahluk Planet yang Asli?

Bentuk alien sebenarnya seperti ubur-ubur, bukan seperti yang selama ini kita lihat di film-film Hollywood.
dailymail.co.uk/PA
Kaget? Pastinya. Walah baru sebatas dugaan, tetap inilah teori terbaru yang diklaim seorang ilmuwan, Maggie Aderin-Pocock (Ahli Satelit dan Penasihat Pemerintah).

Alasannya, menurut Maggie, mahluk planet tidak berasal dari unsur karbon seperti manusia, melainkan silikon. Sehingga, alien bisa menyerap cahaya, bisa beradaptasi dengan berbicara lewat gelombang cahaya. Pokoknya serba beda dari manusia.

"imajinasi yang kita alami dibatasi oleh apa yang kita lihat di sekitar kita dan penerimaan konvensional, bahwa hidup (bentuk kehidupan) berbasis karbon dan membutuhkan air. Tapi beberapa peneliti melakukan pekerjaan yang menarik, bermain dengan ide-ide seperti  bentuk kehidupan berbasis silikon yang berkembang di planet lain, karena lingkungannya sangat berbeda dari bumi," papar Maggie.

Dr. Maggie Aderin-Pocock juga mengungkapkan, sebenarnya peneliti astronomi belum bisa menemukan kehidupan lain walau telah mengamati milyaran planet di galaksi Bima Sakti saja.
dailymail.co.uk/PA 
Bahkan, berkomunikasi melintasi tata surya merupakan tantangan besar. Misalnya, pesawat ruang angkasa Voyager 1, yang telah membawa rekaman salam dari Bumi pada perjalanan melalui tata surya sejak tahun 1977, saat ini baru saja akan meninggalkan tata surya di belakang dan menuju ruang dalam. Dan, belum ada laporan tentang komunikasi dengan alien dari planet lain.

Kemungkinan, menurut Maggie, kalaupun ada mahluk di planet lain belum tentu memiliki kecerdasan yang melebihi manusia. Bisa jadi mereka tidak cukup cerdas untuk dapat berkomunikasi dengan manusia.

Maka yang jadi permasalahan bukanlah eksistensi mahluk di planet lain, melainkan bagaimana cara mengetahui dan bisa berkomunikasi dengan mereka.

Ya, ilmuwan masih terus mencari dan mencari.




Sumber:

Jumat, 01 Juni 2012

Bersiap Lihat Transit Venus yang Langka

Transit Venus adalah peristiwa saat posisi planet tersebut berada di antara Matahari dan Bumi sehingga akan tampak sebagai titik hitam yang bergerak di muka Matahari. Kejadian alam yang langka ini akan terjadi 6 Juni 2012 mendatang.

Mengapa langka? Transit Venus terjadi hanya dua kali dalam satu abad. Uniknya, antara transit pertama dan kedua jaraknya 8 tahun, namun peristiwa berikutnya harus menunggu lebih dari seabad, 121 tahun atau 105,5 tahun tergantung periodenya.
 
Transit Venus terakhir kali terjadi tahun 2004 dan berikutnya akan terjadi 6 Juni 2012. Setelah itu, baru tahun 2117 transit Venus akan kembali terjadi.

Artinya transit Venus mendatang pada 6 Juni 2012 mungkin kesempatan terakhir bagi sebagian besar orang yang hidup saat ini untuk menyaksikannya kecuali berumur panjang lebih dari 100 tahun.

Muhammad Rayhan, Ketua Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ) mengatakan, Venus yang memiliki periode revolusi mengelilingi Matahari rata-rata sekitar 200 hari sementara Bumi yang 365 hari memang akan selalu pada posisi sejajar setiap 19 bulan yang jatuh Juni atau Desember.

Namun, tidak setiap kalau terjadi transit Venus. Hal ini karena orbit Bumi dan Venus punya perbedaan sekitar 3,4 derajat. Posisi sejajar dan lurus hanya terjadi berulang dengan periode 8 tahun, 121 tahun, 8 tahun, dan 105,5 tahun.

Transit hanya terjadi untuk dua planet inferior atau planet dalam yakni Merkurius dan Venus. Hal ini karena kedua planet itulah yang mungkin melintas di antara Bumi dan Matahari. Sementara planet lainnya tidak mungkin terjadi transit dengan Matahari.

"Karena kedua planet di antara obit Bumi dan Matahari. Mars dan lainnya punya orbit di luar Bumi," jelas Rayhan.
  
 
Foto: bma2.org
 
 Beginilah transit venus akan terlihat, ada noktah hitam mengorbit pada matahari
 
Sayangnya, pada peristiwa transit Venus tanggal 6 Juni 2012, tidak seluruh daerah yang bisa mengamatinya. Beruntung, seluruh wilayah Indonesia masuk dalam wilayah pengamatan.

Wilayah Indonesia Timur dapat mengamati peristiwa tersebut dari awal hingga akhir yang berlangsung sekitar 6 jam. Sementara wilayah Indonesia barat dapat mengamati lebih dari 5 jam.

"Sejak pertama kontak sampai selesai dari Jakarta bisa diamati mulai pukul 05.10 pagi," kata Rayhan.

Namun, karena pada saat transit dimulai Matahari belum terbit, pengamatan baru bisa dilakukan beberapa menit kemudian hingga berakhir pukul 11.00.




Sumber
sains.kompas.com

Selasa, 08 Mei 2012

Peristiwa Langka 10.000 Tahun Sekali Yang Berhasil Diamati

Saudara-saudara mungkin masih ingat pelajaran IPA zaman SD sampai SMA mengenai tata surya kita, planet-planet, matahari, dan benda-benda langit lainnya.

Nah, saya masih sedikit-sedikit ingat karena amat menyukai materi pelajaran mengenai benda-benda langit (maklum saya penyuka film The Star Trek) walau nilai pelajaran Fisika saya kurang memuaskan alias pas-pasan.

Nah, yang paling tidak saya ngerti adalah mengenai Black Hole atau Lubang Hitam. Black Hole ini kata guru Fisika saya kekuatannya sangat besar (matahari dan gravitasinya tidak ada apa-apanya dibanding ini) karena mampu "menelan" ruang dan waktu termasuk cahaya.

Ternyata, baru kemarin-kemarin para ilmuwan mengamati fenomena luar angkasa yang terjadi 10.000 tahun sekali. Momen langka terjadi ketika sebuah black hole raksasa di pusat galaksi menghancurkan sebuah bintang.

ini gambarnya:




Wah, terlalu rumit buat saya menjelaskannya (sekali lagi karena nilai Fisika saya pas-pasan). Yang pasti dari yang saya baca tidak menutup kemungkinan tata surya kita dilenyapkan oleh black hole tersebut.

Ngeri... 
 
 
 sumber : Peristiwa 10.000 Tahun Sekali Yang Telah Disaksikan Manusia : Black Hole Menelan Bintang

Kisah Tentang Supermoon si Bulan Super

Bersamaan dengan dirilisnya The Avengers yang ceritanya tentang para superhero dunia Marvel. Di langit akan muncul superhero lainnya yang sepertinya seminggu ini jadi pertanyaan dan pembicaraan masyarakat. Supermoon a.k.a si Bulan Super!

Kalau bulannya jadi super apa bedanya dengan bulan yang kita lihat setiap saat? Apa efeknya pada Bumi?

Jawabannya sih… tentu saja tidak ada yang perlu dikuatirkan. Supermoon a.k.a Bulan Super ini bukan jagoannya Bulan dan tidak akan memberi efek apapun pada Bumi. Tidak akan ada bencana kok.


Foto: quatroolho.com.br

Lantas apa itu fenomena Supermoon?

Istilah supermoon sebenarnya bukan istilah yang diberikan oleh para astronom. Istilah supermoon merupakan terminologi yang diberikan oleh para astrolog untuk fenomena ketika Bulan berada di fasa Purnama. Apa bedanya dengan fasa Purnama lainnya?

Supermoon terjadi ketika Bulan berada dalam fase purnama. Dan tidak hanya itu, Bulan Purnama tersebut haruslah bersamaan dengan posisi Bulan yang sedang berada pada jarak terdekat dengan Bumi atau sedang di titik perigee.

Bulan purnama merupakan fenomena yang terjadi setiap bulan. Dan tentunya dalam peredaran mengitari Bumi, Bulan akan selalui melalui titik perigee ketika ia berada paling dekat dengan Bumi (ingat bentuk lintasan itu ellips jadi ada saat ketika ia berada paling dekat dan paling jauh dari Bumi).

Tapi, ketika Bulan berada di titik perigee, ia tidak berada di jarak yang tepat sama dari tahun ke tahun. Ada variasi posisi perigee yang dilalui Bulan di sepanjang tahun.

Ketika Bulan sedang purnama, ia tidak selalu sedang berada pada posisi perigee. Tapi setiap tahun, ada saat ketika Bulan Purnama bertepatan atau sangat dekat dengan posisi Bulan di perigee.

Fenomena inilah yang dikenal sebagai fenomena supermoon di kalangan para astrolog (ingat astrolog dan bukan astronom!).

Perbandingan penampakan Bulan yang diambil dalam rentang 30 jam sebelum supermoon maret 2011.
Kredit : Ramiz Qureshi, Karachi, Pakistan & Universe Today

Di tahun 2012, fenomena supermoon a.k.a Bulan super ini terjadi di bulan Mei ketika Bulan sedang berada di titik terdekat dengan Bumi pada jarak 356.953 kilometer. Yang menarik Bulan mencapai titik perigee pada tanggal 6 Mei jam 10.33 wib dan 2 menit kemudian bulan mencapai fase purnama.

Pada saat itu, bagi pengamat di Bumi yang terbiasa mengamati Bulan mereka akan mendapati Bulan tampak 14% lebih besar dan 30% lebih terang dibanding Bulan Purnama lainnya di tahun 2012. Tapi bagi mereka yang tidak terbiasa mengamati Bulan, maka tidak akan tampak perbedaan apapun.


Bulan Purnama saat di perigee akan tampak lebih besar 14%. kredit: NASA

Apa efeknya? Dalam siklus alamiah, Bulan mempengaruhi terjadinya gaya pasang surut laut di Bumi, dan ketika Bulan 'mendekat', tentulah pengaruh gravitasi Bulan menjadi lebih besar. Tetapi apakah bisa menimbulkan bencana?


Posisi Bumi-Bulan-Matahari dan kaitannya dengan pasang surut. kredit : Boomeria.org

Mari kita sedikit berhitung dengan matematika. Ambil rata-rata jarak Bumi-Bulan 382.900 km, sedangkan pada tanggal 6 Mei 2012, Bumi-Bulan berjarak 356.953 km, atau 'mendekat' sejarak 25.947 km, atau hanya 6,7% lebih dekat dibanding rata-rata.

Dengan jarak cuma 6,7% lebih dekat, tentunya yang terjadi hanya fenomena alami yang memang terjadi setiap saat. Efek pasang surut yang terjadi juga tidak memberikan perbedaan yang signifikan.

Bahkan meskipun Bulan Purnama terjadi saat berada di titik terdekat dengan Bumi pun, menurut studi geofisika tidak banyak ditemukan dampak signifikan pada keseimbangan energi Bumi.

Bulan purnama 5 Mei 2012. kredit : langitselatan

Kejadian menarik lainnya setelah bulan berada di posisi perigee pada tanggal 6 Mei, pada tanggal 19 Mei, Bulan akan berada pada titik terjauhnya dari Matahari pada jarak 406.500 km dan 2 hari kemudian pada tanggal 21 Mei jam 06.54 wib terjadi Gerhana Matahari Cincin.

Sang gerhana matahari cincin ini akan terjadi ketika Bulan berada pada sisi terjauhnya dan Matahari - Bulan - Bumi sejajar. Karena berada di titik terjauh, piringan Bulan akan 'tampak' lebih kecil sehingga Matahari akan tampak seperti cicin api bagi para pengamat yang beruntung melihat fenomena ini.

Sayangnya, fenomena Gerhana Matahari Cincin 21 Mei tersebut tidak akan dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

Sumber :
ivie - langitselatan.com

Kamis, 26 April 2012

Google Garap Proyek Pertambangan Asteroid

Mendapat sukses dari berbagai produk yang dipasarkan di berbagai belahan dunia, Google kini mulai membidik lahan baru untuk dijadikan sumber penghasilan. Tidak tanggung-tangggung, perusahaan raksasa internet ini akan menggarap proyek pertambangan asteroid di luar angkasa.

Ide penambangan tersebut pertama kali dikemukakan oleh sutradara film Avatar James Cameron. Gagasannya itu pun ternyata mendapat dukungan dari dua pimpinan eksekutif Google, Larry Page dan Eric Schmidt. Alhasil ketiganya pun membuat sebuah joint venture untuk merealisasikan program ambisius tersebut.
Quote:
Quote:
Seperti yang dilansir Daily Mail, Rabu (25/04/2012), Google dan Cameron telah melakukan kerja sama dengan membuat perusahaan bernama Planetary Resources.

Pertama-tama, perusahaan yang bermarkasa di Bellevue, Washington itu akan memfokuskan diri untuk mengembangkan pesawat robot luar angkasa yang digunakan untuk menjalankan misi survei.

Setelah itu, dalam jangka waktu dua tahun kedepan, misi pertama yang diproyeksikan sebagai ujicoba mulai dilakukan. Di sini pesawat robot luar angkasa akan mulai diluncurkan untuk mengorbit di sekitar bumi. Mereka melakukan berbagai observasi, mencari asteroid yang kaya akan bahan platinum.

Selang waktu 5 sampai 10 tahun, proyek itu diharapkan bisa terus berkembang menjadi proses penyulingan.

Menurut juru bicara perusahaan, proyek tersebut diklaim sangat potensial dan mendatangkan banyak uang. Sebagai contoh, batu asteroid sebesar 98 kaki diprediksi memiliki kandungan platinum senilai USD 50 miliar.
Quote:
Selain melakukan penyayaan platinum, mereka juga berencana membangun depot bahan bakar yang dapat digunakan oleh NASA dan seluruh pesawat luar angkasa lainnya.

"Kami memiliki rencana jangka panjang. Kami tidak mengharapkan perusahaan ini akan mendapatkan untung dalam waktu yang cepat. Ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama," ujar pendiri perusahaan Planetary Resources Eric Anderson.

Meski begitu, Anderson menolak memberikan rincian mengenai biaya yang harus dikeluarkan untuk proyek mega tersebut.

Beberapa ilmuwan memprediksi untuk mewujudkan rencana itu akan membutuhkan dana yang sangat banyak. Perusahaan harus mengeluarkan anggaran hingga miliaran dolar untuk pengembangan alat dan pesawat. Tidak hanya itu, proses yang dijalankan juga dianggap sangat sulit.

Selain Google dan Cameron, ada beberapa investor lain yang disebut terlibat. Salah satunya adalah mantan kepala arsitek software Microsoft Charles Simonyi.
Sumber : Wuih! Google Garap Proyek Pertambangan Asteroid

Sabtu, 07 April 2012

NASA Yakin Bumi Alien Ditemukan 2 Tahun Lagi


Manusia terus berupaya mencari planet di luar bumi yang bisa ditinggali makhluk hidup (ESO)
 
Selama ini, para ilmuwan hanya mengira-ngira ratusan planet yang memiliki zona habitat dan disebut-disebut sebagai kandidat pengganti bumi. Namun, dalam dua tahun mendatang, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yakin akan menemukan planet tersebut.

Astronom sudah menemukan 750 planet yang diduga memiliki kehidupan asing alias planet alien. Sementara Teleskop Antariksa milik NASA, Kepler, menambah daftar 2300 kandidat planet berpenghuni yang menunggu studi lanjutan. Jumlah ini belum termasuk planet-planet mirip Bumi yang ada di luar sistem tata surya kita.

"Saya percaya Kepler akan menemukan sebuah planet yang memiliki zona habitat atau Goldilocks planet dalam dua tahun mendatang," kata seorang peneliti khusus biologi exoplanet NASA, Shawn Domagal-Goldman, seperti dikutip dari Livescience.

Dia juga hakulyakin, NASA akan mampu menunjuk satu planet secara spesifik, "Planet yang bisa ditinggali makhluk hidup," kata dia.

Studi Goldilocks planetBeberapa pejabat NASA tampaknya ingin membagi optimisme Domagal-Goldman bahwa badan antariksa tersebut siap mencari jalan untuk mempelajari bumi alien, begitu dia ditemukan.

Sejauh ini, peneliti masih kesulitan mengivestigasi bumi asing tersebut karena jauh dan serta ukuran mereka yang kecil. Cahaya yang terpancar dari planet berzona habitat ini pun redup dan tertutupi cahaya dari bintang induk mereka. Tapi peneliti ini hakulyakin dengan teknik pendekatan transit spectroscopy, dunia ini akan segera diungkap.

Teknik ini mendalami cahaya bintang yang memantul dari atmosfer bumi alien tersebut ke lingkungan kosmik manusia. Menurut peneliti, cahaya ini mengandung 'sidik jari' dari atmosfer bumi alien. Nah, sidik jari inilah yang akan dipelajari astronom. Bagaimana komposisi atmosfer bumi alien ini. "Cahaya refleksi dari exoplanet ini akan bercerita banyak," kata Doug Hudgins, peneliti NASA lainnya.

NASA sedang menimbang untuk meluncurkan satu misi khusus bernama Fast Infrared Exoplanet Spectroscopy Survey Explorer atau Finesse, yang menggunakan metode transit spectroscopy. Misi ini akan mengukur spektrum bintang dan planet-planet mereka di dua situasi, saat planet terlihat dan lagi saat planet ada di balik bintang induk.

NASA juga menimbang observasi yang disebut Transiting Exoplanet Survey Satellite atau Tess yang dibantu perusahaan mesin mencari raksasa, Google. Misi ini dirancang untuk menemukan planet alien di tetangga Bumi


Sumber : VIVAnews.com

Jumat, 16 Maret 2012

18 Planet Baru Seukuran Jupiter Ditemukan Didekat Tata Surya Kita

 
Seorang astronom telah menemukan 18 planet asing baru yang mengorbit sebuah bintang raksasa yang sekarat di luar tata surya kita. Ini adalah sebuah temuan yang bisa membantu para ilmuwan lebih memahami asal-usul matahari kita dan planet-planet yang mengorbitnya.
 
jupiter size planet
ke-18 planet yang ditemukan profesor john johnson dan timnya, semuanya seukuran jupiter
Profesor John Johnson dari Institut Teknologi California bersama tim astronomnya, menghabiskan hampir 10 tahun memperhatikan 300 solar sistem, mencari asal usul penyebab getaran yang disebabkan oleh tarikan gravitasi dari planet-planet.
Ini adalah proyek yang telah lama dikejar oleh Profesor Johnson setelah ia lulus sebagai mahasiswa pascasarjana di University of California, Berkley.
“Saya menyamakannya dengan sebuah taman. Anda menanam benih dan bekerja keras untuk mengurusnya. Kemudian, satu dekade ini, kebun anda menjadi besar dan berkembang. Itulah tempat saya sekarang. Kebun saya penuh dengan tomat lezat yang besar dan terang, seukuran planet Jupiter,” tuturnya yang dikutip Mail Online.
Profesor Johnson menggunakan teleskop kuat di W.M. Keck Observatory, 13.000 kaki (3.965m) di dekat puncak Mauna Kea di Hawaii.
Dia memfokuskan diri pada bintang yang lebih dari satu setengah kali lebih besar dari matahari.
Planet-planet raksasa ini semuanya dari gas dan seukuran Jupiter. Tapi mungkin bagian yang paling luar biasa dari penemuan ini adalah jarak planet-planet ini dengan bintang mereka rata-rata hanya sekitar 27 juta mil, atau 30 persen lebih dekat dari jarak matahari ke bumi.
WM Keck Observatory
wm keck observatory di hawaii, tempat para astronom menemukan planet-planet tersebut
Jika sebuah planet gas besar seperti Jupiter mendekati matahari kita, para ilmuwan percaya planet itu akan tersedot dan dimusnahkan dalam sebuah ledakan api besar. Inilah yang membuat profesor Johnson dan peneliti lain mencoba mencari tahu, mengapa hal ini tidak terjadi dengan ke-18 planet gas yang mengorbit begitu dekat dengan bintangnya.
Selain itu, planet-planet tersebut tampaknya bergerak dalam pola lingkaran sederhana di sekitar bintang raksasa mereka, sedangkan planet-planet di tata surya kita mempunyai orbit elips yang luas.
Karakteristik unik telah menyebabkan Profesor Johnson untuk menyimpulkan planet-planet ini tampaknya terbentuk dari partikel kecil yang menumpuk gas dan debu pada cakram yang mengelilingi sebuah bintang yang baru lahir. Hal ini meningkatkan pemahaman tentang bagaimana planet (termasuk bumi) diciptakan.

Kamis, 08 Maret 2012

Kehidupan Pernah Ada di Planet Super Ini?



GJ 1214b, planet yang memiliki atmosfir serupa Bumi (nasa.gov)
 Uap air dalam jumlah besar terdeteksi dari sebuah planet super-Earth berjarak 40 tahun cahaya. Planet bernama GJ1214b itu diduga pernah ditutupi air. Pernah ada kehidupan di planet ini?

Ilmuwan menduga, planet ini pernah masuk dalam kategori Goldilocks Zone atau Zona Habitat. Tapi, planet ini kemudian bergerak terlalu dekat dengan bintang dalam tata suryanya sehingga air pun menguap.

Artinya pula, bisa jadi ada kehidupan asing alias alien di planet ini, jutaan tahun lalu.

Para astronom dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) Amerika menggunakan Teleskop Hubble untuk menyelidiki planet yang ditemukan tahun 2009 ini. Hasilnya, terbukti planet ini mengandung air dan dilapisi atmosfer beruap.

"GJ1214b tidak seperti planet yang kita kenal selama ini," kata astronom Zachory Berta. Menurut dia, beberapa bagian besar dari massa planet ini terdiri dari air. 

Para teoritis menduga GJ1214b terbentuk saat jauh dari bintang di mana planet mengandung es yang banyak. Lalu, planet ini 'bermigrasi'. Dalam proses perpindahan ini, planet diduga pernah masuk dalam zona habitat. Untuk berapa lama planet ini berada di zona pas untuk habitat dan makhluk hidup, para astronom tak bisa menjawab.

Dua tahun lalu, CfA menemukan planet GJ1214b yang berukuran 2,7 kali bumi. Dia mengorbit pada bintang kerdil berwarna merah bernama Ophiuchus setiap 38 jam sekali pada jarak 1,3 juta kilometer (km)--70 kali jarak Bumi dengan Matahari.  Suhu di Planet ini diperkirakan mencapai 232 derajat Celcius.

Astronom Heather Couper menilai temuan ini penting dalam mencari tanda-tanda kehidupan di luar Bumi. "Ada bukti bahwa ada air di sana. Ini menunjukkan air bisa jadi material umum di alam semesta," kata dia seperti dikutip dari


Sumber : Dailymail






Minggu, 04 Maret 2012

Ancaman Di Tahun 2040

 
Astronom dunia, dari Badan Antariksa Eropa (ESO) dan  Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kini sedang memusatkan perhatian pada pergerakan sebuah asteroid yang besarnya sedikit lebih panjang dari lapangan bola. Namanya, Asteroid 2011 AG5.





Batu raksasa itu diperkirakan bisa menabrak Bumi pada 5 Februari 2040, 28 tahun lagi. Peluangnya 1:625, yang terbesar yang pernah ada. Jika menghantam kota yang berpenduduk padat, niscaya petaka yang akan terjadi. Jutaan orang bisa tewas.

Terkait itu, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengakui, pihaknya belum melakukan penelitian khusus.

"Tim LAPAN hanya memantau kajian internasional. Karena belum ada teknologi yang canggih di Indonesia, sehingga kami hanya memantau saja," kata dia kepada VIVAnews.com, Sabtu 3 Maret 2012.

Apalagi, penemuan obyek tersebut masih dalam jangka waktu yang sangat panjang. "Artinya jika semakin jauh obyek luar angkasa dari tahun perkiraan, maka tingkat akurasi semakin buruk. Ini menjadi probabilistik, karena ada kemungkinan menabrak tapi belum tentu menabrak," kata dia.

Profesor riset Astronomi-Astrofisika itu menerangkan, ada suatu batas tertentu bahwa asteroid yang melintas bumi merupakan obyek yang diwaspadai. Namun meski melintas bumi, belum tentu lintasannya tersebut membahayakan bumi.

Penelitian di tahun 1990-an menjadi contoh kasus. Saat itu diperkirakan Komet Swift-Tuttle akan menabrak Bumi pada tahun 2126. "Namun dengan data terbaru dapat disimpulkan bahwa bumi dalam kondisi aman meski komet tersebut akan melintas bumi," kata dia.

Thomas meminta, masyarakat tak perlu khawatir berlebih. "Karena berita perkiraan tabrakan Asteroid belum bisa dipastikan 100 persen. Mungkin saja orbit asteroid dapat melenceng akibat gangguan planet-planet besar," kata dia.

Meski tak secanggih NASA atau ESO, LAPAN juga mengikuti perkembangan informasi obyek dekat Bumi yang berpotensi membahayakan.

Salah satu alasannya, Indonesia pernah kejatuhan asteroid. Asteroid besar pernah meledak di teluk Bone di Sulawesi pada tahun 2009. Saat itu, asteroid memasuki atmosfer padat bumi dengan perkiraan jarak 10 meter dari permukaan bumi dan menimbulkan ledakan. "Saat itu juga telah disiapkan alat pemantau nuklir yang mendeteksi asteroid hingga ketinggian 30 km sebelum asteroid bersinggungan ke bumi," tambah dia.




sumber ; VIVAnews

Entri Populer