Jumat, 20 Juli 2012

Mengapa Penetapan 1 Syawal & 1 Ramadhan Selalu Berbeda

Perbedaan 1 syawal dan 1 ramadhan yang terjadi selama ini terjadi tak lepas dari perbedaan sistem penghitungan saja.

Sebagai contoh, Arab Saudi dan negara-negara Arab yang kiblatnya adalah Ka’bah di Mekkah. Malaysia dan Jepang pun berkiblat pada penentuan 1 Ramadhan atau syawal di Mekkah. Sementara Indonesia umumnya menentukan sendiri, melalui pertemuan antara pemeritah dan ormas-ormas Islam.

Dalam perhitungan 1 ramadhan dan 1 syawal, ada yang memakai Hisab dengan perhitungan astronomi yang rumit, ada pula yang memakai Ru’yah atau melihat bulan / hilal. Jika bulan terlihat, itulah saat mulai berpuasa atau berbuka puasa (idul Fitri).

Ada pun yang memakai sistem Hisab berpendapat mereka melihat bulan dengan memakai ilmu kalendering.

Pada Ru’yah Lokal, tiap penduduk melihat bulan sendiri-sendiri, sehingga tiap kota atau tiap negara merayakan hari Idul Fitri sendiri-sendiri bisa berbeda satu negara dengan negara yang lain bahkan satu kota dengan kota yang lain.


Ada pun yang memakai Ru’yah Global begitu ada minimal 2 orang saksi yang dipercaya melihat bulan, maka itulah awal Ramadhan atau awal Syawal.

Umumnya Tim Ru’yah di Indonesia gagal melihat Hilal (bulan muda) karena memang langit berawan sehingga bulan muda sering tertutup awan. Selain itu Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia begitu terang oleh cahaya lampu-lampu gedung dan rumah-rumah sehingga langit juga terlihat lebih terang termasuk di Boscha.

Akibatnya sinar-sinar bintang dan bulan terganggu dan terlihat kecil dan redup. Di Arab sebaliknya. Langit tidak berawan. Dengan luas darat yang lebih besar daripada Indonesia (2,4 juta km2) sementara jumlah penduduk cuma 1/5 pulau Jawa, banyak daerah tak bertuan yang tidak berlampu.



Sehingga langit begitu hitam kelam, sementara bintang-bintang dan bulan jadi tampak lebih besar (sekitar 4-6x lipat daripada di Indonesia) dan lebih terang. Oleh karena itu, Hilal lebih mudah terlihat di sana.

Tak heran dengan langit yang cerah, banyak bintang-bintang dan rasi bintang yang namanya berasal dari Arab karena bangsa Arab yang melihat dan menemukannya.

Jadi sulit bagi astronom Indonesia mengungguli astronom Arab mengingat kondisi langitnya beda sehingga untuk ukuran dunia saja bangsa Arab jauh lebih unggul.

Ada juga yang berhari raya Idul Fitri mengikuti Pemerintah. Sudahlah, daripada ribut-ribut dan beda-beda, ikuti saja pemerintah. Kalau dosa juga kan yang menanggung pemerintah. Dalilnya adalah ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita agar mentaati ”Ulil Amri”.

Paham Ru’yah Global juga menyatakan bahwa ummat Islam itu satu dan tidak terpecah-belah jadi banyak negara kecil seperti sekarang.(Noong Kendi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer