Rabu, 01 Februari 2012

Pelajaran Berharga dari si Penjual Roti


Suatu hari tampak seorang pemuda tergesa- gesa memasuki sebuah warung makan karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjual roti menghampirinya: “Om, beli kue dong Om. Masih hangat dan rasanya enak..!”  ^__^

“Tidak, Dik. Saya sudah memesan makanan tadi”. Jawab si Pemuda menolak. Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran. Melihat si Pemuda telah selesai menyantap makanan, si Anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si Pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, “Tidak Dik, saya sudah kenyang”.

Sambil terus mengikuti Pemuda itu si Anak berkata : “Kuenya bisa dibuat oleh- oleh pulang lho, Om”. Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun akhirnya dibuka kembali. Dan dikeluarkannya selembar uang 5 ribuan kemudian dikasihkan ke penjual roti. “Maaf, saya tidak beli kue. Uang ini anggap saja sebagai sedekah dari saya, Dik”.

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu ia bergegas keluar restoran, kemudian memberikan uang pemberian itu kepada Pengemis di seberang jalan. Si Pemuda yang memperhatikan dengan seksama terkejut..!! Ia langsung menegur: “Hai adik kecil, kenapa uangnya diberikan ke orang lain..? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah kamu mendapat uang malah diberikan ke pengemis itu..?” “Maaf, Om…”. Jangan marah ya..? Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dengan cara kerja keras, bukan dengan mengemis. Kue- kue ini dibuat oleh Ibu saya sendiri dan Ibu saya pasti kecewa dan sedih, jika saya mendapatkan uang bukan karena jerih payah saya dalam berjualan. Tadi Om bilang “uang sedekah”, jadi ya saya berikan ke pengemis itu.

Si Pemuda akhirnya merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti, “MasyaAllah… Dik, berapa banyak roti yang kamu bawa..? Saya borong semua untuk oleh- oleh”. Si anak pun lansung menghitung jumlah dagangannya dengan gembira. Sambil menyerahkan uang, si Pemuda berkata : “Terimakasih banyak ya Dik, atas pelajaran hari ini. Tolong sampaikan salam saya untuk Ibu kamu di rumah.
Walaupun si Anak tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan pemuda itu, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berkata : “Makasih banyak ya Om. Ibu saya pasti sangat senang kerena jerih payahnya dihargai, dan uang ini pasti sangat bermanfaat bagi kehidupan kami”.

----------
Ya, itulah pelajaran yang bisa kita ambil. Seorang anak dengan kepolosan hatinya menyampaikan Apa yang ia inginkan. Kadang hikmah- hikmah kehidupan tidak dapat kita dapatkan di bangku sekolah, bahkan di bangku kuliah sekalipun. Semuanya justru banyak kita dapatkan dari kehidupan sehari- hari. Seorang anak yang ingin “DIHARGAI”, bukannya ingin “DIKASIHANI”. Karena pasti sangat berbeda antara’menghargai’ dengan ‘mengasihani’. Kalau Engkau ingin dikasihi, maka berikanlah kasih sejati. Dan bukan rasa kasihan, sebab beda sekali antara mengasihi dan mengasihani.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer